SELASARMulai proyek

Studio , Jakarta / Bali

Sebuah studio yang percaya ruang melayani hidup.

SELASAR merancang arsitektur dan interior untuk hunian serta hospitality kelas atas. Kami bekerja dengan jumlah proyek yang terjaga, agar setiap ruang mendapat perhatian yang layak dari gagasan pertama hingga kunci diserahkan.

Atelier arsitektur SELASAR saat senja, meja gambar dan maket disapu cahaya hangat

Cerita kami

SELASAR didirikan di Jakarta pada 2011, lahir dari keyakinan sederhana bahwa arsitektur yang baik lebih dulu melayani hidup sehari-hari, bukan sekadar memamerkan bentuk.

Selama satu dekade, keyakinan itu membawa kami dari rumah kota di Jakarta ke hunian dan hospitality di Bali. Studio kedua dibuka kemudian, dekat dengan tapak dan pengrajin, agar setiap detail lahir dari tempat ia berdiri.

Para arsitek SELASAR menekuni gambar kerja di atas meja kayu gelap
  1. 2011

    Studio didirikan di Jakarta

    Dimulai oleh tiga sahabat dengan satu keyakinan tentang cara ruang seharusnya melayani hidup.

  2. 2016

    Proyek hospitality pertama di Bali

    Sebuah vila butik membuka babak baru, membawa bahasa desain kami ke lanskap tropis.

  3. 2019

    Studio kedua dibuka di Kerobokan

    Kehadiran tetap di Bali agar kami dekat dengan tapak, pengrajin, dan cahayanya.

  4. 2024

    Penghargaan desain nasional

    Kerja yang tenang dan konsisten mendapat pengakuan di panggung desain dalam negeri.

Para principal

Tiga tangan, satu bahasa desain.

Potret Arya Nararya, Principal Architect di SELASAR
Arya NararyaPrincipal Architect

Memimpin visi arsitektur, dari studi tapak hingga bentuk yang berdiri.

Potret Laras Wijaya, Design Director di SELASAR
Laras WijayaDesign Director

Menjaga bahasa desain tetap satu, tenang, dan konsisten di tiap proyek.

Potret Bimo Santosa, Principal, Interiors di SELASAR
Bimo SantosaPrincipal, Interiors

Merancang material, cahaya, dan perabot yang terasa dari dekat.

Prinsip

Empat pegangan di balik setiap rancangan.

01

Cahaya sebagai material

Kami memperlakukan cahaya seperti bahan bangunan. Ke mana ia jatuh, kapan ia hangat, bagaimana ia menemani hari, semua diperhitungkan sejak awal.

02

Menua dengan anggun

Material dipilih agar semakin baik seiring waktu. Beton, travertine, dan kayu yang mengenal usia, bukan penutup yang cepat lelah.

03

Detail yang terasa

Sambungan, tepi, dan perabot dirancang untuk disentuh dan dihuni, bukan sekadar dipandang. Ketelitian yang bekerja diam-diam.

04

Tapak lebih dulu

Setiap rancangan dimulai dari tempatnya berdiri. Iklim, arah angin, dan lanskap memandu bentuk sebelum satu garis pun ditarik.